Budayawan sekaligus kiai, KH Ahmad Mustofa Bisri atau lebih dikenal dengan Gus Mus mendapat anugerah gelar doctor honoris causa (HC) di Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Gus Mus dianggap layak menerima gelar itu karena kiprahnya di bidang kebudayaan Islam.
Acara pemberian gelar terhadap kiai kelahiran Rembang, Jawa Tengah itu dilakukan di kampus UIN Sunan Kalijaga di Jl Laksda Adisucipto Yogyakarta, Sabtu (30/5/2009). Acara itu dipimpin langsung Rektor Prof Dr H. Amin Abdullah. Turut hadir dalam acara itu diantaranya budayawan asal Madura D. Zawawi Imron, mantan Ketua PP Muhammadiyah, Prof Dr Ahmad Syafii Maarif, Ketua Umum PP Muhammadiyah Din Syamsuddin, Ketua Mahkamah Konstitusi (MK) Mahfud MD dan M. Sobari.
Dalam penganugerahan gelar itu, Gus Mus mengambil pidato berjudul ‘Mengkaji Ulang Beberapa Konsep Keislaman Sebagai Mukaddimah Reformasi Keberagaman Bagi mengembalikan Keindahan Islam’.
Seusai pidato kepada wartawan, Gus Mus mengaku merasa senang meski sebelumnya sempat menolak gelar tersebut. Dia menolak ketika tim Senat Guru Besar UIN Sunan Kalijaga bertemu untuk menyampaikannya. Tim Senat menjelaskan penganugerahan tidak hanya karena pribadi Gus Mus, namun juga pada ajaran-ajaran Islam yang disampaikan oleh Gus Mus. Setelah itu Gus Mus pun berkenan menerima anugerah tersebut.
“Ini pertama kali saya memakai toga, saat di wisuda Kairo saya tidak memakai toga,” ungkap Gus Mus.
Menurut dia, orang Islam di Indonesia masih terjebak oleh Fiqih halal dan haram. Namun tidak memahami Islam itu sendiri. Islam di Indonesia lebih ke fiqih.
“Selalu terdengar, halal-haram, rokok haram, facebook haram. Padahal Islam itu perlu tidak hanya halal-haram saja, tapi bagaimana Islam bisa memberi ketentraman kehidupan manusia,” kata Gus Mus
Dia mengatakan kalau pendekatan fiqih, itu sangat kaku. Pergaulan antara manusia menjadi tidak akur. Ada persaudaraan, agama kasih sayang sangat diperlukan perlu.
Sementara itu menurut Rektor UIN Sunan Kalijaga, Prof Dr Amin Abdullah, Gus Mus sangat pantas untuk mendapatkan anugerah tersebut. Dia memiliki pemikiran, kepribadian dan kehidupan yang sama dengan visi UIN.
Kesamaan itu terletak pada pemikiran bagaimana membuat ajaran agama Islam memiliki peran yang signifikan dalam kehidupan umat. “Dia membumikan Islam dengan pendekatan budaya. Sehingga nilai-nilai Islam merasuk dan membudaya dalam perilaku masyarakat,” pungkas Amin.
Sebagai seorang santri saya turut bangga atas penghargaan yang telah di terima oleh Kyai Mus atau Gus MUs. sudah selayaknya Beliau mendapatkan anugrah Doctor HC tersebut. Sebagai seorang tokoh Muslim yang disegani baik dikalangan NU pada khususnya maupun kalangan umat islam pada umumnya, beliau bisa memadukan antara ajaran Islam Theosentris dengan kebudayaan Nusantara (jawa). Sehingga Susah untuk menyebut beliau sebagai ulama’ atau sebagai budayawan.
(bgs/mad)

